Tampilkan postingan dengan label romantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label romantis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Oktober 2020

[Puisi] Kacau

 


Oleh Fauzan Cahyoko


semalam obrolan kita semakin hangat

topik kita saling memikat

lalu kau nyletuk memanggilku, "Mas."


saat itu, 

aku rasa napasku telah berhenti

tiada lagi yang namanya detak jantung

kagetnya bukan main!

lalu, matamu dan mataku saling bertabrakan

pipimu semakin memerah

akupun memalingkan wajah


maaf, semalam aku terlena

Mengkhayal tentang semua perasaanmu padaku


Yogyakarta, 15 Oktober 2020

[Puisi] Kenangan


Gejolak mengikis keadaan

Sayup menerpa kekosongan

Redup hati tak tertahan


Melihat jemari menggenggam

Sosok lain yang masih temaram

Di beranda malam


Perih tetap kunikmati

belati menancap di hati

Tak terperi


Mencintaimu ialah perihal ikhlas

Meski hati selalu na'as

Kerap tak berujung balas


Aku baik-baik saja

Kala senyummu melengkung untuknya

Hingga laraku sirna


Tak apa takdirmu menentangku

Pergi saja angin lalu

Siapku melupakanmu


Meski aku tenggelam dalam ingatan

Meski lara di sekujur badan

Kupastikan rasa ini mati perlahan


Keping rindu terukir perih

Meratap jiwa kian lirih

Euphoria hati berujung pedih


Purnama melalapmu perlahan

Untuk hati yang kini kulepaskan

Kusebut itu kenangan


Pertiwi, 13 Oktober 2020


Oleh: 

1. Marzuqotun Najiyah

2. Fauziyah Handayani

3. Triana Valentina A

4. Mila Naura

[Puisi] Pak Sapardi, Abadikan Aku dalam Puisi



Oleh Khotimah Khazanah Fauziah


Bulan Juni

Anak kecil membisu

Melihat malaikat hatinya terbujur kaku

Itu adalah aku.


Aku adalah yang paling tabah,

Dibanding Bulan Juni yang kau puji.

Juni menjadi yang dibenci karena telah mengambil yang aku kasihi.

Meninggalkan tanpa jejak.


Aku yang paling tabah dibandingkan Bulan Juni yang kau puji.

Abadikan aku dalam puisi, Pak Sapardi.


Garut, 15 Oktober 2020

[Puisi] Tak Lagi Sama

 


Oleh Herdianti Wikke Yulian


Derap langkah kaki kita

Kini tak lagi terdengar bunyinya

Riuh yang pernah diperdengarkan pada semesta

Kini hanya tersisa jejak-jejak nostalgia


Renyahnya canda dan tawa

Telah terganti oleh linangan air mata

Seakan roda kebahagiaan telah tiada

Meninggalkan kisah kita dalam lara


Tak pernah aku sangka sebelumnya

Matrik akan menjupai kata kita

Menghancurkan segala upaya yang pernah tercipta

Agar kita tetap bersama-sama


Apa memang ini akhirnya?

Perjalanan cerita cinta yang sudah kita bangun empat tahun lamanya

Jika memang jawabannya iya

Maka aku siap untuk melupa




Ruang Hampa, 15 Oktober 2020