Tampilkan postingan dengan label Puisi akrostik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi akrostik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 November 2020

[Puisi Akrostik] Break Up

 


Oleh: Ananda Mella


Betapapun aku berusaha menghapusmu dari hatiku; aku tak mampu.

Ruang hatiku benar-benar penuh dengan dirimu.

Entah bagaimana sikapmu padaku kini; aku tetap mencintaimu.

Aku tak menganggap kita telah berakhir, tapi hanya memberi jeda untuk kemudian membangun kembali cinta yang sempat tertunda.

Kau tetap kekasihku, meski kutahu kau telah bersama seseorang yang baru.

Ukuran cintaku lebih tinggi dari gunung yang menjulang, pun lebih dalam dari dalamnya lautan.

Percayalah! Hanya kau satu-satunya orang yang kumau.


Bogor, 20.11.05

[Puisi Akrostik] Akmal




Oleh: Khairun Muna


Aksara kembali menghiasi bumi, dengan seuntai warna cukup lihai menarik pandangan mata.


Kilauan permatanya menembus kulit sampai ke ubun-ubun, kini sudah tak dapat ditahan. Ingin rasanya dituangkan, agar diri tidak kesakitan.


Matanya yang hitam mampu memberi ketenangan jiwa, semoga pancarannya cukup aku saja yang merasa.


Ambisius terus saja berpihak kepadanya, semoga ingin tidak salah dalam menentukan.


Lingkran bumi akan menjadi lingkaran kita, tinggal menunggu masa, dalam membentuk cerita dengan seutuhnya.


Aceh, 5 November 2020

[Puisi Akrostik] Ayah

 


Oleh: Ade Rifani


Alunan muratal di malam ini menggetarkan jiwaku. Mengingat sosok lelaki yang selalu menjadi penopang langkahku. Cinta pertama saatku lahir ke dunia. Lelaki pertama yang mampu bertahan dengan segala sikap manja.


Yang selalu sigap saat melihat mata sembab. Selalu menawarkan raga untuk bersandar tanpa kuminta. Menghadirkan peluk dalam setiap pelik yang ada. Menghapus semua duka lara yang menyapa


Aksa elang itu kian meredup termakan usia. Daksa tegap pun kian membungkuk karena semakin senja. Tangan yang dulu selalu menopang kini semakin keriput. Surai hitam pun kian memutih dibalik kopyah. 


 Hiruk pikuk kota telah kau lalui sepanjang usiamu. Tersimpan di balik aksa yang kian meredup. Kutitipkan harap dan doa pada sebait kata yang kupersembahkan untukmu, ayah.



Bandung, 05 November 2020